![]() |
| Ilustrasi Gen Z Indonesia menghadapi politik digital, banjir informasi, media sosial, dan keresahan isu publik. |
Gen Z dan Politik Digital: Kenapa Anak Muda Makin Kritis, Tapi Juga Makin Lelah?
Catatan pembuka: Artikel ini merupakan refleksi sosial-politik populer untuk tujuan edukasi. Tulisan ini tidak dibuat untuk menyerang kelompok, partai, tokoh, atau institusi tertentu, melainkan untuk memahami cara generasi muda melihat politik di era digital secara lebih jernih, empatik, dan seimbang.
Ada satu kalimat yang makin sering terdengar dari anak muda hari ini: “Gue bukan nggak peduli politik, gue cuma capek.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya cukup dalam. Di balik kata “capek” itu ada banyak hal yang menumpuk. Ada janji publik yang terasa berulang. Ada perdebatan yang tidak selesai-selesai. Ada konten politik yang ramai, tapi sering terasa minim substansi. Ada juga rasa kecewa karena suara anak muda kadang begitu dicari menjelang pemilu, tetapi setelah itu tidak selalu benar-benar didengarkan.
Di media sosial, kita bisa melihat fenomena ini hampir setiap hari. Ada Gen Z yang sangat vokal membahas isu sosial, pendidikan, lapangan kerja, lingkungan, korupsi, biaya hidup, sampai kebebasan berpendapat. Tapi di sisi lain, ada juga yang memilih diam. Bukan karena tidak punya pendapat, melainkan karena ruang publik terasa terlalu bising.
Jadi, apakah Gen Z benar-benar apatis terhadap politik?
Sepertinya tidak sesederhana itu.
Generasi ini tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka tidak hanya mengenal politik dari televisi, koran, atau pidato resmi. Mereka mengenal politik lewat TikTok, Instagram, X/Twitter, YouTube, podcast, meme, thread panjang, video pendek, komentar netizen, sampai potongan pernyataan tokoh publik yang bisa viral dalam hitungan jam.
Bagi Gen Z, politik bukan lagi sesuatu yang jauh di gedung parlemen atau panggung kampanye. Politik hadir di layar ponsel, di kolom komentar, di grup chat, di tongkrongan, bahkan di obrolan kecil saat membahas harga makan siang yang makin mahal.
Masalahnya, semakin dekat politik dengan kehidupan sehari-hari, semakin besar juga rasa lelah yang muncul ketika politik terasa tidak membawa perubahan yang cukup nyata.
Gen Z Bukan Apatis, Mereka Hanya Lebih Selektif
Label “apatis” sering sekali dilemparkan kepada anak muda. Katanya, Gen Z tidak peduli politik. Katanya, anak muda lebih sibuk dengan hiburan, gim, konser, drama selebritas, atau konten lucu di media sosial.
Padahal kalau diperhatikan lebih jujur, gambaran itu tidak sepenuhnya tepat. Banyak anak muda justru sangat aktif membicarakan isu publik. Hanya saja, cara mereka berpolitik tidak selalu sama seperti generasi sebelumnya.
Mereka mungkin tidak selalu ikut rapat organisasi. Tidak selalu hadir di forum formal. Tidak selalu memakai bahasa politik yang kaku. Tapi mereka bisa menyebarkan petisi, membuat konten edukasi, membongkar informasi yang janggal, mengkritik kebijakan lewat thread, atau menyuarakan keresahan lewat meme dan video pendek.
Apakah semua bentuk partisipasi digital itu otomatis berkualitas? Tentu tidak. Ada yang informatif, ada juga yang hanya ikut arus. Tapi tetap perlu diakui bahwa ruang politik anak muda memang berubah. Politik tidak lagi hanya soal hadir secara fisik di ruang formal. Politik juga soal bagaimana seseorang membaca isu, merespons keadaan, mencari informasi, dan membangun sikap di ruang digital.
Data Komisi Pemilihan Umum menunjukkan bahwa pemilih muda, yaitu generasi milenial dan Gen Z, menjadi bagian besar dari pemilih pada Pemilu 2024. Dalam lembar fakta KPU, pemilih milenial dan Gen Z mencapai 58,38 persen dari keseluruhan pemilih di Indonesia. Gen Z sendiri tercatat lebih dari 50 juta pemilih.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah tanda bahwa suara anak muda bukan pelengkap. Mereka bukan penonton di pinggir lapangan. Mereka adalah bagian besar dari arah politik Indonesia hari ini dan masa depan.
Masalahnya, banyak anak muda merasa hanya dianggap penting ketika angka mereka dibutuhkan. Menjelang pemilu, mereka disebut “generasi penentu”. Mereka didekati dengan bahasa yang dibuat seolah muda, konten yang dibuat seolah dekat, dan janji yang terdengar sangat peduli. Tapi setelah pemilu selesai, sebagian dari mereka merasa aspirasinya kembali tenggelam di antara bahasa birokrasi, kepentingan elite, dan keputusan yang sulit dipahami publik.
Di sinilah rasa lelah itu muncul. Bukan karena Gen Z tidak peduli, tapi karena mereka mulai bertanya: setelah suara kami dihitung, apakah suara kami masih didengar?
Politik Digital: Ketika Demokrasi Masuk ke Timeline
Generasi sebelumnya mungkin mengenal politik lewat televisi, koran, baliho, diskusi kampus, ceramah, atau obrolan keluarga. Gen Z mengenalnya lewat layar kecil yang mereka pegang hampir sepanjang hari.
Menurut APJII, jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari 221 juta orang, dengan penetrasi internet sekitar 79,5 persen. Artinya, ruang digital bukan lagi dunia sampingan. Ia sudah menjadi salah satu ruang utama masyarakat Indonesia untuk belajar, bekerja, mencari hiburan, berdebat, dan membentuk opini.
Karena itu, ketika membicarakan politik anak muda, kita tidak bisa memisahkannya dari media sosial. Bagi Gen Z, media sosial bukan hanya tempat hiburan. Ia juga menjadi tempat mencari informasi, melihat respons publik, menguji argumen, menemukan komunitas, dan memahami isu yang sebelumnya terasa jauh.
Politik digital punya dua sisi.
Di satu sisi, ia membuka akses. Anak muda yang dulu mungkin jauh dari forum politik kini bisa memahami isu lewat video pendek, infografis, podcast, artikel populer, atau penjelasan sederhana dari kreator independen. Topik yang dulu terasa berat bisa dibahas dengan bahasa yang lebih dekat dan mudah dipahami.
Di sisi lain, politik digital juga bisa membuat semuanya terasa terlalu cepat. Hari ini ramai soal kebijakan publik. Besok pindah ke skandal baru. Lusa muncul polemik lain. Belum selesai memahami satu isu, isu berikutnya sudah naik ke permukaan.
Akhirnya, banyak anak muda merasa kewalahan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu banyak hal yang harus dipedulikan dalam waktu bersamaan.
Timeline bisa berubah menjadi ruang yang melelahkan. Di sana ada informasi, emosi, kemarahan, sindiran, klarifikasi, bantahan, propaganda, potongan video, dan komentar yang saling bertabrakan. Dalam situasi seperti itu, menjaga pikiran tetap jernih bukan perkara mudah.
Gen Z hidup di era ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencerna semuanya. Maka wajar jika sebagian dari mereka memilih mengambil jarak sesekali. Bukan karena kosong, tapi karena terlalu penuh.
Lelah dengan Janji yang Terasa Berulang
Salah satu alasan kenapa banyak Gen Z terlihat sinis terhadap politik adalah karena mereka terlalu sering mendengar janji yang terdengar mirip dari waktu ke waktu.
Setiap musim politik, kalimat indah kembali muncul. Anak muda disebut masa depan bangsa. Pendidikan akan diperbaiki. Lapangan kerja akan diperluas. Harga kebutuhan akan dijaga. Korupsi akan diberantas. Ekonomi akan tumbuh. Suara rakyat akan didengar.
Semua terdengar bagus. Masalahnya, bagi banyak anak muda, pertanyaannya bukan lagi “apa janjinya?” melainkan “apa buktinya?”
Gen Z adalah generasi yang terbiasa membandingkan. Mereka bisa mencari rekam jejak, menemukan video lama, membaca jejak digital, melihat perubahan pernyataan, dan membandingkan narasi kampanye dengan kenyataan setelah seseorang mendapat posisi.
Di satu sisi, kebiasaan ini membuat mereka lebih kritis. Di sisi lain, ini juga membuat mereka lebih mudah kecewa ketika melihat jarak antara ucapan dan tindakan.
Rasa lelah itu bukan hanya soal politik nasional. Dalam kehidupan sehari-hari, anak muda menghadapi tekanan yang sangat nyata. Mencari pekerjaan yang stabil tidak selalu mudah. Upah pertama sering terasa tidak sebanding dengan biaya hidup. Harga rumah makin jauh. Pendidikan makin mahal. Persaingan kerja makin ketat. Isu kesehatan mental makin sering dibicarakan karena banyak orang merasa hidup berjalan terlalu cepat.
Ketika masalah-masalah itu bertemu dengan bahasa politik yang terlalu manis, sebagian anak muda merasa tidak sedang diajak bicara. Mereka merasa sedang dijadikan target komunikasi.
Ada perbedaan besar antara diajak bicara dan dijadikan target.
Diajak bicara berarti didengarkan, dipahami, dan dihargai sebagai warga negara. Dijadikan target berarti hanya dipetakan sebagai kelompok pemilih, segmen konten, atau angka elektoral.
Gen Z cukup peka membedakan dua hal itu.
Gimmick Politik dan Hilangnya Kepercayaan
Di era digital, politik tidak hanya bersaing dalam gagasan. Politik juga bersaing dalam perhatian.
Siapa yang paling viral, paling lucu, paling santai, paling sering muncul di FYP, dan paling terlihat dekat dengan anak muda sering kali mendapat sorotan besar. Kadang, sorotan itu bahkan lebih besar daripada pembahasan tentang gagasan, program, atau rekam jejak.
Ini bukan berarti gaya komunikasi yang santai itu salah. Justru politik memang perlu dibuat lebih mudah dipahami. Tidak semua hal harus dibungkus dengan bahasa teknis yang membuat publik malas membaca. Masalahnya muncul ketika gaya mengalahkan isi.
Gen Z tidak anti dengan konten politik yang kreatif. Mereka bisa menikmati meme politik, video pendek, atau gaya komunikasi yang ringan. Tapi mereka juga bisa merasa muak ketika semua itu terasa hanya sebagai panggung pencitraan.
Misalnya, ketika tokoh publik tiba-tiba memakai bahasa anak muda hanya saat kampanye. Ketika isu anak muda dibahas hanya sebagai tempelan. Ketika keresahan soal pekerjaan, pendidikan, biaya hidup, kebebasan berekspresi, atau lingkungan dijawab dengan slogan yang tidak menyentuh akar masalah.
Dalam situasi seperti itu, gimmick bisa menjadi bumerang. Alih-alih membuat politik terasa dekat, ia justru membuat politik terlihat semakin tidak tulus.
Kepercayaan publik, terutama dari anak muda, tidak bisa dibangun hanya dengan konten yang rapi. Kepercayaan lahir dari konsistensi. Dari keberanian menjawab pertanyaan sulit. Dari kesediaan mengakui kekurangan. Dari komunikasi yang tidak meremehkan kecerdasan publik. Dan yang paling penting, dari kebijakan yang dampaknya benar-benar terasa.
Gen Z mungkin suka konten cepat, tapi bukan berarti mereka tidak bisa membaca ketidaktulusan.
Isu yang Benar-Benar Dekat dengan Gen Z
Kalau ingin memahami politik Gen Z, jangan mulai dari pertanyaan “mereka dukung siapa?” Mulailah dari pertanyaan yang lebih dekat: “apa yang mereka khawatirkan setiap hari?”
Karena bagi banyak anak muda, politik bukan konsep yang abstrak. Politik terasa dalam hal-hal yang sangat dekat dengan hidup mereka.
Politik terasa ketika lulusan baru sulit mendapat pekerjaan yang layak. Politik terasa ketika biaya kuliah naik. Politik terasa ketika gaji pertama habis untuk transportasi, makan, kos, dan cicilan. Politik terasa ketika ruang berekspresi di internet tidak selalu aman. Politik terasa ketika cuaca makin tidak menentu. Politik terasa ketika rumah menjadi mimpi yang semakin jauh.
Jadi, kalau Gen Z terdengar cerewet membahas isu sosial, itu bukan karena mereka ingin terlihat pintar. Banyak dari mereka memang sedang membicarakan masa depan mereka sendiri.
Beberapa isu yang sering dekat dengan keresahan Gen Z antara lain:
- Lapangan kerja dan upah layak. Banyak anak muda ingin bekerja keras, tetapi juga ingin kerja kerasnya dihargai secara wajar.
- Biaya pendidikan. Pendidikan masih dianggap sebagai jalan naik kelas, tetapi biayanya sering terasa makin berat.
- Harga rumah dan biaya hidup. Banyak yang merasa mimpi hidup mandiri makin sulit dicapai.
- Kesehatan mental. Tekanan ekonomi, sosial, akademik, dan digital membuat isu ini makin relevan.
- Kebebasan berekspresi. Gen Z tumbuh di ruang digital, sehingga rasa aman dalam menyampaikan pendapat menjadi hal penting.
- Lingkungan dan perubahan iklim. Bagi anak muda, isu lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan masa depan tempat mereka akan hidup.
- Transparansi dan antikorupsi. Banyak anak muda ingin melihat tata kelola publik yang lebih bersih, terbuka, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika isu-isu ini tidak dijawab secara serius, wajar jika anak muda merasa politik hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan perebutan posisi, manuver elite, dan drama kekuasaan, sementara masalah sehari-hari publik terasa berjalan di tempat.
Di sinilah jarak antara anak muda dan politik formal sering melebar. Bukan karena anak muda tidak punya kepedulian, tetapi karena politik formal sering gagal hadir dalam bahasa dan solusi yang mereka rasakan.
Bahaya Ruang Digital: Cepat Viral, Cepat Salah Paham
Meski politik digital membuka banyak ruang baru, kita juga tidak boleh melihatnya terlalu romantis. Media sosial bukan tempat yang selalu sehat untuk belajar politik.
Di media sosial, informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan bisa tampil dengan kemasan yang sama menariknya. Konten emosional sering lebih cepat menyebar daripada penjelasan yang tenang. Potongan video bisa membuat seseorang terlihat buruk atau baik, tergantung bagian mana yang dipotong. Judul provokatif bisa membuat orang marah sebelum membaca isi lengkapnya.
Gen Z memang generasi yang akrab dengan teknologi. Tapi akrab dengan teknologi tidak otomatis membuat seseorang kebal dari hoaks, manipulasi, atau polarisasi.
Ini bagian yang penting untuk diakui. Anak muda bisa sangat kritis, tetapi juga bisa terbawa arus. Bisa cerdas membaca isu, tetapi juga bisa lelah lalu memilih percaya pada narasi yang paling mudah dicerna. Bisa membongkar ketidakadilan, tetapi juga bisa ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Ruang digital membuat partisipasi politik menjadi lebih cepat, tetapi tidak selalu lebih dalam.
Karena itu, literasi digital dan literasi politik menjadi sangat penting. Bukan hanya kemampuan memakai aplikasi, tetapi kemampuan untuk bertanya sebelum percaya dan berpikir sebelum membagikan.
Beberapa pertanyaan sederhana yang bisa membantu antara lain:
- Informasi ini sumbernya dari mana?
- Apakah ini fakta, opini, atau potongan konteks?
- Apakah ada media kredibel atau sumber resmi yang membahas hal serupa?
- Apakah saya marah karena datanya kuat, atau karena kontennya memang dirancang untuk memancing emosi?
- Apakah saya sedang memahami isu, atau hanya ikut arus karena semua orang membicarakannya?
- Apakah kritik saya membantu memperjelas masalah, atau hanya menambah kebisingan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak selalu mudah dilakukan, apalagi ketika emosi sedang naik. Tapi justru di situlah kedewasaan politik mulai tumbuh.
Kritis bukan berarti harus percaya semua hal yang melawan arus. Kritis berarti mau memeriksa, menimbang, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Gen Z?
Kalau pembuat kebijakan, tokoh publik, atau partai politik ingin benar-benar dekat dengan Gen Z, jawabannya bukan sekadar membuat akun TikTok, memakai bahasa gaul, atau mengundang influencer.
Itu boleh saja dilakukan, tetapi tidak cukup.
Gen Z membutuhkan politik yang lebih jujur. Politik yang tidak hanya hadir saat butuh suara. Politik yang berani menjelaskan keputusan sulit dengan bahasa yang masuk akal. Politik yang tidak menganggap kritik sebagai serangan pribadi. Politik yang mau mendengar tanpa langsung meremehkan.
Anak muda tidak selalu menuntut kesempurnaan. Banyak dari mereka justru cukup realistis. Mereka tahu mengurus negara itu sulit. Mereka tahu tidak semua masalah bisa selesai dalam semalam. Mereka tahu kebijakan publik penuh kompromi.
Tapi yang membuat kecewa adalah ketika kesulitan itu ditutup-tutupi dengan pencitraan. Ketika kritik dijawab dengan defensif. Ketika janji dibuat terlalu besar, lalu penjelasan atas kegagalannya terlalu kecil.
Yang dibutuhkan Gen Z bukan pemimpin yang pura-pura muda. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang cukup dewasa untuk menghormati kecerdasan anak muda.
Ada beberapa hal yang bisa membuat politik terasa lebih sehat bagi generasi ini:
- Transparansi. Jelaskan data, alasan, risiko, dan dampak kebijakan secara terbuka.
- Bahasa yang manusiawi. Tidak harus kaku, tetapi juga jangan merendahkan publik dengan slogan kosong.
- Ruang dialog. Anak muda tidak hanya ingin diberi ceramah, mereka ingin diajak bicara.
- Konsistensi. Sikap hari ini sebaiknya tidak terlalu mudah bertolak belakang dengan ucapan kemarin.
- Kebijakan yang terasa. Pada akhirnya, konten sebagus apa pun akan kalah oleh kenyataan hidup sehari-hari.
Politik yang sehat tidak perlu takut pada anak muda yang kritis. Justru kritik adalah tanda bahwa mereka masih peduli.
Yang perlu dikhawatirkan bukan anak muda yang bertanya keras. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika anak muda berhenti bertanya karena merasa tidak ada gunanya lagi.
Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda?
Di tengah rasa lelah terhadap politik, wajar kalau sebagian anak muda ingin mengambil jarak. Tidak semua orang sanggup mengikuti isu publik setiap hari. Tidak semua orang punya energi untuk berdebat. Tidak semua orang harus menjadi komentator politik penuh waktu.
Menjaga kesehatan mental tetap penting. Beristirahat dari keramaian digital juga bukan dosa.
Namun, menarik diri sepenuhnya dari isu publik juga punya risiko. Jika anak muda yang kritis memilih diam total, ruang publik bisa diisi oleh suara-suara yang belum tentu peduli pada masa depan mereka.
Karena itu, mungkin yang lebih realistis bukan memaksa semua orang terus bersuara setiap hari, melainkan membangun partisipasi yang sehat dan berkelanjutan.
1. Mulai dari Isu yang Paling Dekat
Tidak perlu memahami semua isu sekaligus. Pilih satu atau dua isu yang paling dekat dengan hidupmu. Bisa pendidikan, pekerjaan, biaya hidup, transportasi, lingkungan, kesehatan mental, atau perumahan.
Dari isu yang dekat, kepedulian biasanya lebih tahan lama. Kita lebih mudah belajar ketika merasa isu itu benar-benar menyentuh hidup sendiri.
2. Cek Sumber Sebelum Membagikan
Kalau ada konten yang membuat sangat marah, justru itu momen terbaik untuk berhenti sebentar. Cek sumbernya. Cari pembanding. Lihat konteksnya. Jangan sampai niat mengkritik justru berubah menjadi ikut menyebarkan informasi yang keliru.
3. Bedakan Kritik dan Serangan Personal
Kritik kebijakan itu sehat. Mengkritik pejabat publik juga bagian dari demokrasi. Tapi serangan personal, hinaan fisik, doxing, atau penyebaran data pribadi bisa membuat diskusi kehilangan arah.
Kritik yang kuat tidak harus kasar. Justru kritik yang rapi, berbasis data, dan fokus pada masalah sering kali lebih sulit dibantah.
4. Jangan Merasa Harus Selalu Online
Peduli pada isu publik bukan berarti harus memantau keributan setiap jam. Kamu boleh istirahat. Boleh tidak ikut semua debat. Boleh memilih diam sementara untuk menjaga pikiran.
Kritis bukan berarti harus terbakar setiap hari.
5. Gunakan Hak Politik dengan Sadar
Partisipasi politik tidak berhenti pada komentar di media sosial. Ada banyak bentuk lain yang bisa dilakukan, mulai dari membaca program kandidat, mengikuti diskusi publik, mengawasi kebijakan lokal, menyampaikan aspirasi dengan cara aman, ikut komunitas, sampai menggunakan hak pilih dengan pertimbangan matang.
Politik memang sering mengecewakan. Tapi kalau orang-orang yang kecewa justru mundur sepenuhnya, yang tersisa mungkin hanya mereka yang nyaman dengan keadaan.
Penutup: Lelah Bukan Berarti Menyerah
Gen Z sering disalahpahami. Kadang dianggap terlalu sensitif. Kadang dianggap manja. Kadang dianggap hanya hidup di dunia digital. Kadang dianggap tidak tahan proses. Tapi mungkin, sebagian penilaian itu muncul karena kita belum benar-benar mendengar mereka dengan sabar.
Generasi ini tumbuh dalam dunia yang cepat, mahal, bising, dan penuh ketidakpastian. Mereka diminta optimis, tetapi setiap hari melihat harga hidup makin tinggi. Mereka diminta peduli politik, tetapi sering melihat politik berubah menjadi pertunjukan. Mereka diminta percaya proses, tetapi berkali-kali melihat janji publik tidak berjalan seperti yang dibayangkan.
Jadi, ketika Gen Z terlihat lelah, mungkin itu bukan tanda bahwa mereka tidak peduli. Mungkin itu tanda bahwa mereka terlalu lama memperhatikan.
Mereka membaca, menonton, membandingkan, mengingat, dan menilai. Mereka mungkin tidak selalu turun ke jalan. Tidak selalu berdebat di forum formal. Tidak selalu memakai bahasa yang rapi. Tapi bukan berarti mereka tidak punya sikap.
Kadang sikap itu muncul dalam bentuk meme. Kadang dalam bentuk komentar singkat. Kadang dalam bentuk diam yang penuh kecewa. Kadang dalam bentuk pilihan untuk tidak mudah percaya lagi.
Yang jelas, anak muda tidak bisa lagi diperlakukan hanya sebagai angka dalam survei pemilih, target kampanye digital, atau penonton yang cukup diberi slogan menarik. Mereka adalah warga negara dengan pengalaman, kecemasan, dan harapan yang nyata.
Politik yang sehat seharusnya tidak takut pada kritik anak muda. Justru kritik itu adalah tanda bahwa masih ada yang peduli. Yang berbahaya bukan anak muda yang bertanya keras. Yang lebih berbahaya adalah ketika mereka berhenti bertanya karena merasa tidak ada gunanya.
Karena itu, mungkin tugas kita hari ini bukan menyuruh Gen Z berhenti mengeluh. Mungkin yang lebih penting adalah mendengar apa yang sebenarnya sedang mereka keluhkan.
Sebab di balik meme, sarkasme, komentar tajam, dan rasa lelah itu, ada pesan sederhana yang ingin disampaikan: masa depan sedang dibentuk hari ini, dan anak muda tidak ingin hanya menjadi penonton dalam hidup mereka sendiri.
Gen Z mungkin lelah, tapi lelah bukan berarti menyerah. Selama masih ada yang mau bertanya, memeriksa, mengkritik, berdialog, dan peduli, harapan untuk ruang publik yang lebih sehat masih belum padam.
Apa Pendapat Kamu?
Menurut kamu, apakah Gen Z benar-benar apatis terhadap politik, atau justru lebih kritis dengan cara yang berbeda?
Bagian mana yang paling kamu rasakan: lelah dengan janji politik, bingung memilah informasi, muak dengan gimmick, atau merasa isu publik makin dekat dengan hidup sehari-hari?
Tulis pendapat kamu di kolom komentar. Siapa tahu, keresahan yang kamu rasakan juga sedang dirasakan banyak anak muda lain. Kadang, satu komentar jujur bisa membuka percakapan yang lebih sehat.
